MENJAGA TRADISI: ISTIGHOSAH SUBUH HINGGA NIKMATNYA MAKAN SENAMPAN DI HARI JUM'AT BERKAH
![]() |
| Dokumentasi istighosah di pesarena kyai bersama pengasuh |
DARUL HIKAM MEDIA– Fajar di pondok pesantren selalu membawa kedamaian tersendiri. Namun, ada yang berbeda dan jauh lebih istimewa ketika hari Jumat tiba. Sebuah rangkaian kegiatan spiritual dan sosial yang sarat akan nilai berkah tetap dijaga kelestariannya sejak masa lampau hingga saat ini.
Bagi masyarakat pondok pesantren, hari Jumat adalah rajanya hari (sayyidul ayyam) yang harus disambut dengan kesungguhan ibadah. Menjaga warisan para sesepuh, para santri memiliki agenda rutin yang telah mengakar kuat sejak dulu hingga sekarang. Rangkaian spiritual ini dimulai sesaat setelah adzan subuh berkumandang dan sholat subuh berjamaah selesai dilaksanakan dengan khusyuk di mushollah pondok.
Tanpa beranjak dari tempat, kegiatan langsung berlanjut dengan pembacaan sholawat Syarful Anam. Lantunan pujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW bergema syahdu, memecah keheningan pagi dan meresap ke dalam hati setiap santri yang hadir. Tradisi pembacaan sholawat ini menjadi wasilah pembuka pintu langit sebelum memasuki acara inti spiritual di pagi hari.
Istighosah Bersama Pengasuh di Pesarean Kyai
Selesai membaca sholawat, langkah kaki para santri bersama-sama menuju ke pesarean (makam) Kyai sepuh pendiri pondok pesantren. Di tempat yang penuh ketenangan ini, mereka duduk bersila bersama Pengasuh Pondok Pesantren untuk melaksanakan istighosah bersama. Di bawah bimbingan langsung dari sang pengasuh, untaian doa, dzikir, dan permohonan ampun dipanjatkan ke hadirat Allah SWT.
Kegiatan istighosah di makam pendiri atau masyayikh pondok ini bukan sekadar rutinitas formal, melainkan sarana bertabarruk (mencari berkah) sekaligus menyambung sanad spiritual antara santri, pengasuh, dan para muassis (pendiri) yang telah tiada. Suasana sakral begitu terasa saat asma-asma Allah dan kalimat thoyyibah digaungkan bersama-sama. Kegiatan mulia ini berlangsung dengan khidmat hingga waktu menunjukkan kurang lebih pukul enam pagi lewat.
Keberkahan Sholat Dhuha dan Hangatnya Makan Senampan
Setelah istighosah selesai terlaksana, para santri tidak langsung membubarkan diri untuk bersantai. Mereka menunggu dengan sabar hingga waktu dhuha tiba. Begitu matahari mulai meninggi seukuran tombak, para santri langsung merapatkan barisan untuk menunaikan ibadah sholat dhuha. Sholat sunnah ini dijalankan sebagai bentuk ikhtiar batin untuk mengetuk pintu rezeki, baik rezeki lahiriah maupun rezeki kemudahan dalam menuntut ilmu agama.
![]() |
| Dokumentasi sekelompok santri makan bersama dalam satu nampan |
Puncak dari kebersamaan di hari Jumat yang penuh berkah ini ditutup dengan momen yang paling dinantikan: makan bersama. Setelah menegakkan ibadah sejak fajar, hidangan sarapan pagi telah siap menanti. Uniknya, hidangan ini tidak disajikan di piring perorangan, melainkan di dalam talaman atau nampan seng besar untuk dimakan bersama-sama dengan teman-teman santri.
Sajian lezat di dalam talaman tersebut disiapkan secara khusus atas kedermawanan Nyai (istri pengasuh) serta dibantu secara gotong royong oleh para santri yang mendapatkan tugas piket dapur pada hari itu. Menu sederhana namun nikmat diletakkan di tengah-tengah nampan. Dengan duduk bersila atau jongkok melingkar di atas tanah atau teras halaman pondok, para santri menikmati setiap suapan dengan penuh rasa kekeluargaan.
Makan bersama dalam satu talaman ini merekatkan kembali rasa persaudaraan dan mengikis ego pribadi. Tidak ada perbedaan senior maupun junior; semua melebur dalam satu nampan yang sama. Tradisi ini membuktikan bahwa di lingkungan pesantren, keberkahan tidak hanya dicari melalui untaian doa dan istighosah di pesarean, tetapi juga dirawat melalui seuntai senyum dan suapan nasi senampan yang penuh dengan nilai kesederhanaan.
Menutup Hari Jumat dengan Berkhidmah: Bersih-bersih Ponpes dan Dhalem Kyai
Keberkahan hari Jumat tidak berhenti sampai di suapan terakhir talaman. Selesai menyantap hidangan dan memastikan talaman kembali bersih, para santri langsung sigap bergerak memegang peralatan kebersihan. Agenda penutup yang tak kalah sakral adalah melaksanakan aksi bersih-bersih massal atau kerja bakti lingkungan pondok pesantren (ponpes) serta area dhalem (kediaman) Kyai.
Para santri dibagi ke dalam beberapa tim; ada yang menyapu halaman, merapikan mushollah, membersihkan kamar mandi, tempat wudhu, teras ponpes, hingga membantu membersihkan area luar dan dalam dhalem Kyai. Bagi seorang santri, membersihkan lingkungan pesantren dan kediaman guru bukanlah sebuah beban atau pekerjaan rumah biasa, melainkan sebuah bentuk khidmah (pengabdian). Makan bersama di satu talaman memberi kami energi lahiriah, sementara bersih-bersih pondok dan dhalem Kyai memberi kami energi batiniah. Di dhalem guru, setiap debu yang kami bersihkan adalah harapan akan mengalirnya limpahan berkah dan ridho atas ilmu yang kami pelajari.
Aktivitas gotong royong ini menjadi penutup yang indah. Tradisi runtut di hari Jumat ini membuktikan bahwa kehidupan di pondok pesantren adalah keseimbangan yang sempurna antara vertikal (hablum minallah melalui istighosah dan sholat) serta horizontal (hablum minannas melalui makan senampan, kekompakan, dan menjaga kebersihan lingkungan bersama).
("Rangkaian doa subuh hingga fajar ini adalah modal utama kami untuk menata hati. Menghadiri istighosah bersama pengasuh di makam kyai memunculkan rasa takdzim dan ketenangan spiritual yang luar biasa sebelum kami memulai hari,")
Sekian terimah kasih
Shollu 'alannabi muhammad


0 Komentar