Rutinitas Malam Selasa di Ponpes Darul Hikam Rujing

 RUTINITAS MALAM SELASA  DI PONPES DARUL HIKAM RUJING SUKAONENG

Ilustrasi ngaji Al-quran di pesarean sehabis sholat magrib

Bagi masyarakat umum, malam Selasa mungkin berjalan biasa saja. Namun, di Pondok Pesantren Darul Hikam, malam Selasa adalah momentum spiritual dan ajang penggemblengan mental yang sangat dinanti. Ada rangkaian tradisi unik yang memadukan antara riyadhoh spiritual, asah bakat (khitobah), hingga tradisi tolak bala yang estetis.

Bagaimana keseruan dan kekhusyukan para santri? Mari kita intip potret rutinitas malam Selasa mereka yang sarat akan makna.

1. Gemuruh Doa di Pesarean Kyai: Membaca Surah Al-Munjiyat

Rangkaian kegiatan dimulai tepat setelah kumandang azan Magrib dan sholat berjamaah selesai ditunaikan. Alih-alih kembali ke kamar, seluruh santri langsung merapatkan barisan menuju Pesarean Kyai. Di tempat yang penuh ketenangan ini, para santri bersama-sama melantunkan Surah Al-Munjiyat. Secara berurutan, ayat-demi-ayat dari surah-surah pilihan dibacakan dengan khusyuk, meliputi:

Surah As-Sajdah

Surah Yasin

Surah Ad-Dukhan

Surah Al-Waqi'ah

Surah Al-Hasyr

Surah Al-Mulk

Surah Al-Buruj

Membaca rangkaian surah ini di makam sang masyayikh bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana bertabarruk (mencari berkah) sekaligus pengingat akhirat bagi sanubari setiap santri.

2. Panggung Khitobah: Penggemblengan Mental Setelah Isya

Memasuki waktu Isya dan setelah sholat berjamaah selesai, atmosfer pesantren berubah menjadi lebih dinamis. Ini adalah waktunya Muhadhoroh atau Latihan Khitobah (Pidato), sebuah agenda wajib yang dirancang untuk melatih mental kepemimpinan santri di masyarakat kelak. Suasana latihan khitobah ini berlangsung sangat khidmat sekaligus melatih keberanian. 


Salah satu dokumentasi kegiatan malam selasa, pada gambar tersebut
menunjukkan seorang santri latihan khitobah/pidato!

Di atas mimbar, para santri bergantian tampil memegang mikrofon untuk mengasah kemampuan public speaking mereka. Rangkaian kegiatan wajib ini meliputi:

Latihan MC (Master of Ceremony) sebagai pemandu acara.

Lantunan Qiroat ayat suci Al-Qur'an.

Pembacaan Sholawat Nabi untuk menambah kecintaan kepada Rasulullah.

Latihan Bilal dan Khotbah.

Penampilan Latihan Khitobah 1, 2, 3, dan 4 dari perwakilan santri yang ditunjuk.

Serta pembacaan do'a

Sebelum dibubarkan, para pengurus pondok akan memberikan evaluasi jalannya acara, arahan penting, serta pembagian jadwal petugas yang akan tampil pada minggu depan. Langkah ini memastikan setiap santri mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar.

3. Tradisi Burdah Keliling: Syahdu di Bawah Nyala Oncor

Puncak estetika dan spiritualitas malam Selasa di Ponpes Darul Hikam ditutup dengan Burdah Keliling. Seluruh santri berjalan mengitari area pondok pesantren sambil melantunkan bait-bait Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri.

Rute perjalanan burdah keliling ponpes darul hikam: pertama 
dimulai dari halaman depan ponpes

Dokumentasi: Tradisi burdah keliling

Tradisi ini memiliki keunikan tersendiri:

Penerangan Oncor: Santri berjalan beriringan membawa oncor (obor bambu tradisional) dan ada juga segelintir santri yang memegang senter. Kerlap-kerlip api di tengah kegelapan malam menciptakan suasana yang sangat syahdu dan sarat akan nilai tradisi sejarah Islam Nusantara.

Megang Teks Burdah: Bagi para santri yang bacaan mengajinya sudah dinilai lancar, mereka memiliki tanggung jawab khusus untuk memegang teks Burdah dan memimpin jalannya lantunan sholawat.

Catatan Kondisi Cuaca: Burdah keliling ini memiliki "syarat khusus". Kegiatan outdoor ini hanya dilaksanakan jika cuaca cerah dan jalanan tidak becek. Apabila malam itu diguyur hujan atau kondisi jalanan berlumpur, tradisi Burdah tetap berjalan, namun dialihkan ke dalam Mushollah untuk dibaca bersama-sama secara berjamaah setelah pembacaan sholawat Syarful Anam selepas subuh.

Melalui rutinitas malam Selasa ini, Pondok Pesantren Darul Hikam berhasil menyeimbangkan dua hal penting dalam pendidikan pesantren: Riyadhoh Bathiniyyah (melalui dzikir al-munjiyat dan burdah) serta Tarbiyah Insaniyyah (melalui latihan mental khitobah). Sebuah harmoni indah yang kelak akan melahirkan generasi muda Islam yang bermental baja, namun tetap berhati lembut.


("Lelahnya mengaji akan hilang, tetapi berkah ilmunya akan tetap tinggal dan menerangi jalan pulang.")

Allahumma sholli 'ala muhammad

Sekian Terimah kasih




Posting Komentar

0 Komentar